Search This Blog

Powered By Blogger

Tuesday, June 22, 2010

Video Seks & Ledakan Melon - Sex Video & Melon Explosion

Video seks dan ledakan melon. Judul ini saya pilih berkaitan dengan isu "panas" di beragam media dan berita di Indonesia akhir-akhir ini. Pertama, kasus video seks Nazril Ilham atau Ariel, vokalis Peterpan, yang melibatkan dua selebriti wanita, Luna Maya dan Cut Tari. Yang kedua, kasus ledakan gas dari tabung gas 3 kg yang cacat yang digunakan secara luas, yang sering disebut tabung gas "melon" karena memang bentuknya menyerupai buah melon. Kedua isu ini telah mengakibatkan keresahan di masyarakat Indonesia secara luas dengan cara yang berbeda. Entah bagaimana, tindakan dan respon yang diambil terhadap kasus-kasus ini sangat mengherankan-paling tidak bagi akal sehat saya.

Pertama, ketika video seks belum pernah menimbulkan korban meninggal sampai dengan ditulisnya artikel ini, tabung silinder 3 kg yang cacat telah mengakibatkan ratusan rumah terbakar dan banyak orang tua dan muda meninggal. Kedua, ketika orang khawatir video seks akan merusak morak anak-anak dan remaja, resiko kematian akibat ledakan gas masih ada paling tidak bagi pengguna 44 juta tabung gas 3-kg yang berpotensi cacat, yang didistribusikan pada tahap pertama program konversi minyak tanah ke gas Pertamina pada tahun 2007. Ketiga, ketika aktor utama video seks telah ditahan sejak 22 Juni, belum ada tindakan efektif dan sangsi hukum yang diambil untuk merespon kebocoran gas kecuali memberikan kompensasi dan menyediakan asuransi kepada anggota keluarga korban, dan mengaktifkan "Satgas tabung gas 3-kg".

Saya tidak membela Arial, karena saya bukan teman dan bukan penggemar, tetapi saya heran bahwa isu moral lebih penting dari kehidupan itu sendiri di Indonesia. Bagaimana mungkin seorang ibu menghalangi anak-anaknya untuk tidak melihat video porno karena alasan moral tetapi dia masih menggunakan tabung gas yang sewaktu-waktu bisa meledak di dapurnya? Bagaimana mungkin perusahaan melindungi moral masyarakat sementara pada saat bersamaan membiarkan pembunuhan terhadap warga negara akibat resiko dan konsekuensi kebijakan konversi gas Pertamina?

Inilah realita potensi ledakan. Tulus Abadi, dari Badan Sertifikasi Nasional (BSN) menyatakan "hampir 66% dari 44 juta tabung gas 3-kg, 50 persen kompor gas, 20 persen pemantik, dan 100 persen selang dari paket pertama cacat. Ini buruk sekali". Dia juga mengatakan bahwa pemerintah tidak membuat riset mendalam sebelum melakukan program konversi minyak tanah ke gas. Dia juga heran kenapa polisi belum menginvestigasi hampir 88 persen kasus ledakan gas yang dilaporkan. "Polisi harus membuktikan jika ledakan tersebut akibat kesalahan konsumen, produsen tabung gas, atau Pertamina. Kasus-kasus tersebut harus dibawa ke pengadilan. Pemerintah selama ini menghindari tanggungjawabnya. Harus ada program darurat untuk menangani 44 juta tabung gas yang sewaktu-waktu bisa meledak, katanya.

Sebenarnya, hak konsumen di Indonesia dilindungi oleh hukum. Namun, saya yakin kebanyakan masyarakan Indonesia belum menyadarinya. Ketua Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen kota Bandung, Rudy Sundaya, mengatakan bahwa kebocoran gas menunjukkan bahwa konsumen masih berada di posisi yang lemah. "Keselamatan diatur dalam Undang-undang no.8 tahun 1999 mengenai Perlindungan Konsumen. Produsen dapat dituntut oleh perorangan" kata Rudy. Mereka harus merasa aman dalam menggunakan produk dan konsumen dapat mengajukan kasus dengan didukung bukti, tambahnya.

Mari kita tinggal sejenak Ariel dengan moral isu dan melihat kasus kebocoran gas dari perspektif tanggung jawab sosial perusahaan;


1. Jelas bahwa Pertamina harus bertanggungjawab terhadap dampak dari program konversi minyak tanah ke gas. Adanya kasus dan korban menunjukkan kegagalan untuk melihat resiko program secara menyeluruh, tidak hanya yang aspek terlihat tetapi aspek kondisi penggunaan yang tidak terlihat. Termasuk juga kondisi sosial dan kemampuan rata-rata masyarakat dalam menggunakan dan merawat kompor gas dan tabung gas.


2. Kedua, tindakan responsif dan preventif harus diambil oleh Pertamina. Ini berarti harus ada mekanisme untuk mengakses kualitas kompor gas, tabung gas, dan segala perlengkapannya, dari proses perakitan sampai dengan distribusi ke konsumen akhir. Mekanisme penelusuran juga harus diimplementasikan. Saya yakin Pertamina akan mudah mengidentifikasi produsen tabung gas yang meledak jika mekanisme penelusuran diterapkan dengan baik. Investigasi terhadap potensi barang cacat yang rusak harus dilakukan meski belum ada laporan resmi dari masyarakat umum. Program asuransi akan menolong keluarga korban, tetapi bukankah kehidupan tak ternilai harganya?


3. Pertamina harus mengedukasi konsumen dan distributor mengenai tabung gas yang cacat. Mereka harus diberikan informasi yang jelas mengenai penyimpanan, pengiriman, penggunaan, perawatan, dan identifikasi resiko kompor gas dan tabung gas.


4. Pertamina harus melakukan "recall" untuk tabung gas 3 kg yang cacat, terutama terhadap tabung gas yang didistribusikan pada tahap pertama program konversi. Saya teringat akan program "recall" besar-besaran yang dilakukan oleh Toyota dan Honda terhadap kendaraan mereka yang cacat tahun ini. Saya yakin bahwa perusahaan-perusahaan ini menghabiskan banyak dana dan mengorbankan keuntungan untuk melakukan program "recall", tetapi itulah cara mereka menghargai kehidupan. Bagaimana dengan Pertamina?

(SP)

Referensi;

http://english.kompas.com/read/2010/06/23/0513295/Nearly.66.Percent.of.3-Kg.Gas.Cylinders.in.Indonesia.Defective-5

http://nasional.kompas.com/read/2010/06/24/19374337/Para.Korban.Tabung.Elpiji.Bisa.Menggugat

http://tempointeraktif.com/hg/layanan_publik/2010/06/15/brk,20100615-255576,id.html

http://bataviase.co.id/node/186931

http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/metropolitan/10/06/15/120065-pertamina-beri-penjelasan-soal-ledakan-tabung-gas



English version:

Sex video and melon explosion. I choose this title regarding the latest two 'hot' issues in any Indonesian news and media. First is the sex video case of Nazril Ilham a.k.a Ariel, the vocalist of Peterpan, which involves two female celebrities, Luna Maya and Cut Tari. Secondly, the gas explosion cases from the widely use of 3-kg defective gas cylinders, which are familiarly called the "melon" gas cylinders due to their melon-like shape. These two issues have been resulting fidgety in Indonesian people at large in different ways. Somehow, the response and actions taken to address these cases are astonishing-at least according to my common sense.


First, while the sex video has never been causing fatalities until this article is written, the 3-kg defective gas cylinders recorded hundreds of houses burnt and many innocent young and old people died. Second, while people are afraid that the sex video may destruct moral of children and teenagers, the death risk of gas explosion still exists at least to the users of the 44 million of potentially defective 3-kg gas cylinders, which were distributed during the first phase kerosene-to-gas conversion program of Pertamina (government-owned gas and oil company) in 2007. Third, while the main actor of sex video has been arrested since June 22, neither effective actions and legal sanctions are taken to response the gas leak except the giving compensation and providing insurance to the family members of victims, and initiating "the working group on 3-kg gas cylinders".

I would not defend Ariel, since I am not a friend neither a big fan of him, but I am surprised that morality issue is more important than the life itself in Indonesia. How can a mother protect her children from seeing a sex video because of morality reason while at the same time she is still using potentially exploded gas cylinders in her kitchen? How can the government be said protecting moral of society while at the same time let the killing of citizens caused by the risks and consequences of a gas conversion policy of Pertamina ?

Here is the truth about our potential explosion. Tulus Abadi from the the National Certification Board (BSN) said that "Nearly 66 percent of 44 million 3-kg gas cylinders, 50 percent of gas stoves, 20 percent of nozzles and even 100 percent of hoses of the first package are defective. That’s terrible." He also stated that the government did not conduct an in-depth research before implementing the kerosene-to-gas conversion program. He also wondered why the police had not investigated nearly 88 percent of reported cases of gas cylinder explosions. "Police must probe them to see if the explosions were the fault of consumers, gas cylinder makers or state oil and gas company Pertamina. The cases must be brought to justice. The government has so far shunned responsibility. There must be emergency program to avoid 44 million potential cases of gas cylinder explosions," he said.

Actually, consumer rights are protected by the Indonesian law. Nevertheless, I believe most of Indonesians have not yet recognized the law. The Head of Consumer Dispute Resolution Body (Ketua Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen-BPSK) of Bandung City, Rudy Sundaya, said the gas leak incidents showed that the consumers' were still powerless (at risks) . "Safety is regulated in the Law No.8 year 1999 about Consumer Protection. Producers can be sued by individuals" Rudy said. They should be felling safe in using products and consumer could file a case supported by evidence, he added.

Let us leave Ariel with his moral issue behind for a while and take a look the gas leak cases from a perspective of socially responsible company;

1. It is clear that Pertamina should be responsible for the impacts of kerosene-to-gas conversion program. The incidents and victims are the results of failures to see the risks of a program holistically, not just for the seen but also the unforeseen condition of use. This includes social condition and common ability of people to use and maintain the gas stoves and gas cylinders.

2. Second, both responsive and preventive actions should be taken by Pertamina. It means that there should be a mechanism to assess the quality of gas stoves, gas cylinders and other gas features, from the assembling process until the distribution to end consumers. A tracing mechanism should also be implemented. I believe Pertamina can easily find the producers of exploded gas cylinders if the tracing mechanism is well implemented. Investigation on potential defective products should be initiated even without the reports of incidents from public. The insurance program may help the family members of victims but, life is priceless, isn't it?

3. Pertamina should educate both consumers and distributors about defective gas cylinders. They should be given clear information about the storage, delivery, use, maintenance, and risk identification of gas stoves and gas cylinders.

4. Pertamina may initiate a recall program for the defective 3-kg gas cylinders, especially for the goods which were distributed in the first phase of conversion program. I remember the massive product recall programs of Toyota and Honda for their defective vehicles this year. I believe these companies spent a lot of funds and sacrificing profits for the product recall programs but that was the way they valued life. How about Pertamina?

Reference;

http://english.kompas.com/read/2010/06/23/0513295/Nearly.66.Percent.of.3-Kg.Gas.Cylinders.in.Indonesia.Defective-5

http://nasional.kompas.com/read/2010/06/24/19374337/Para.Korban.Tabung.Elpiji.Bisa.Menggugat

http://tempointeraktif.com/hg/layanan_publik/2010/06/15/brk,20100615-255576,id.html

http://bataviase.co.id/node/186931

http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/metropolitan/10/06/15/120065-pertamina-beri-penjelasan-soal-ledakan-tabung-gas

http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/ekonomi/10/06/10/119335-pertamina-aktifkan-satgas-lpg-tiga-kilogram